Berita IDN Global

Selengkapnya
Festival Batik dan Ikat 2021 di Taiwan

Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Indonesia Diaspora Network (IDN) Taiwan kembali menggelar Festival Batik & Ikat 2021 di Nanmen Park Museum Nasional Taiwan pada Minggu (3/10). Acara ini menampilkan serangkaian kegiatan budaya Indonesia, termasuk tarian dan paduan suara tradisional, serta seni batik. Acara ini juga menampilkan peragaan busana batik. Project Manager Event Inggrid Chandra mengatakan batik dan budaya tenun ikat merupakan warisan budaya yang diteruskan secara turun temurun. Sehingga untuk menjaga kelestarian budaya tersebut, IDN Taiwan menyelenggarakan festival bertema batik setiap tahun untuk merayakan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Tanggal 2 Oktober ini diperingati sebagai Hari Batik Nasional usai  UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi kepada Indonesia pada tahun 2009. “Berawal dari kecintaan yang mendalam terhadap budaya dan tanah air Indonesia, kami selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya batik dan tenun ikat dengan teman-teman internasional kami," kata Chandra. Perwakilan dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Indonesia (KDEI) di Taipei Budi Santoso dalam pidato pembukaannya mengatakan acara ini sekaligus sebagai momentum untuk memamerkan keindahan batik, terutama dengan masyarakat di luar Indonesia. Dia juga mendorong masyarakat di seluruh dunia untuk memakai pakaian batik, mengingat kain ini sudah mudah untuk didapatkan di seluruh dunia. “Hari Batik mengingatkan kita bahwa kita memiliki peradaban yang penuh warna. Batik adalah catatan sejarah keindahan,” kata Budi. Festival Batik yang digelar setiap tahun sejak 2017 ini dihadiri oleh ratusan orang baik masyarakat Indonesia yang berbasis di Taiwan dan warga asing. Berkaitan dengan adanya pembatasan Covid-19 yang diterapkan oleh pihak museum, peserta yang hadir hanya dibatasi 50 orang di dalam ruangan dan 80 orang di luar dengan pembatasan waktu tertentu. (KD/ IDN Taiwan)

-

Webinar : When Merdeka Came to Australia

IDN Victoria menggelar diskusi interaktif bertajuk “When Merdeka Came to Australia” pada Sabtu (23/10) dengan menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Member of Royal Australian Historical Society Initiator Black Armada Exhibition Anthony Liem, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia sekaligus Putri Proklamator Indonesia, Bung Hatta yakni Meutia Farida Hatta, Founder Gerakan Revolusi Pemuda (GARUDA) R.M.E Tjokrosantoso dan dimoderatori oleh Vice President IDN Victoria Devi Shanty. Sebelum webinar dimulai, Konsulat Jenderal RI di Victoria dan Tasmania Kuncoro Giri Waseso menyampaikan kata sambutannya. Webinar ini mengupas hubungan Indonesia dan Australia yang telah dibangun dan terjalin sejak lama. Bahkan semenjak proklamasi diumumkan melalui siaran radio, dimana Indonesia meminta dukungan terhadap negara lain atas kemerdekaan Indonesia. Dan Australia adalah negara asing pertama yang mendukung kemerdekaan RI. Tjokrosantoso mengatakan hal ini terlihat saat Presiden Sukarno beserta istrinya Fatmawati menerima Menteri Luar Negeri Australia PC Spender pada 3 Januari 1950. “Usai kemerdekaan diproklamasikan, Belanda menilai Bung Karno melakukan aksi pemberontakan. Sehingga pada pertengahan tahun 1947 Indonesia terus melakukan demonstrasi dan mendapat dukungan dari Australia. Bahkan dimuat di koran Sydney Morning Herald pada 26 Juli 1947,” ujar Tjokrosantoso. “When Merdeka Came to Australia” merupakan webinar seri pertama dan rencananya akan diselenggarakan setiap bulan hingga diselenggarakannya pameran Indonesia-Australia yang rencananya akan berlangsung April-Mei 2022 di Melbourne dan Bali. (IW/ IDN Victoria)

-

Perjuangan Marathon Kewarganegaraan Ganda, Menyerah atau Maju

Upaya untuk menyuarakan DK sudah dilakukan oleh IDN Global sejak awal berdiri. Dimulai dengan Task Force Imigrasi dan Kewarganegaraan hingga turut mengawal diluncurkannya KMILN. Tulisan kali ini akan berfokus pada upaya yg dilakukan oleh WGIK periode 2021-2023 dengan mulai menyusun Position Paper (PP). Position Paper IDN-G terhadap aspirasi KG, sebuah pegangan perjuangan yang berkelanjutan Di dalam PP yang merupakan dokumen strategis dan hidup itu disebutkan seperti apa strategi perjuangan KG yang dilakukan di bawah koordinasi Pengurus IDN-Global itu. Ada 2 Kata Kunci yaitu: 1) Kerjasama (dengan para pejuang KG yang lain) dan 2) Mutual Dialog (dengan para stake holders, khususnya pemangku kebijakan). Demikian pula disebutkan perlunya dibuat Buku Putih (White Paper) Perjuangan Diaspora Indonesia untuk Kewarganegaraan Ganda, yang merupakan sebuah dokumen pre Naskah Akademik. Buku Putih ini menjelaskan secara sistematis mengapa Diaspora Indonesia menginginkan KG dan bagaimana aspirasi ini dapat dijustifikasi berdasarkan teori dan praktek kewarganegaraan yang ada, apakah ia dapat diakomodasi oleh sistem hukum yang berlaku di Indonesia, serta pasal berapa saja dari UU Kewarganegaraan yang berlaku (UU no. 12 tahun 2006) yang perlu ditambah atau dikurangi guna memenuhi aspirasi ini. Seperti sering kita dengar dari pemangku kebijakan, hambatan utama perjuangan KG adalah politik hukum Kewarganegaraan Tunggal. Kesan yang mereka timbulkan adalah bahwa melakukan perubahan agar menjadi Politik Hukum Kewarganegaraan Ganda adalah hal yang mustahil. Barulah ketika Wakil Menteri KumHam, Prof. Dr. Eddy O.S. Hiariej SH, dalam Webinar yang diselenggarakan IDN-Victoria, Australia pada bulan September 2021 lalu mengatakan bahwa Politik Hukum Kewarganegaraan Tunggal dapat dirubah menjadi Politik Hukum Kewarganegaraan Ganda jika sekurang-kurangnya 5 dari 9 fraksi di DPR menyetujui perubahan tersebut, angin segar berhembus. Dari sesuatu yang mustahil menjadi sesuatu yang memungkinkan, terlebih lagi ketika dikatakan cukup sebagian atau tidak seluruh fraksi harus menyetujui. Karena berbagai kesulitan, akhirnya Buku Putih tidak berhasil dituntaskan dalam masa kepengurusan Presiden Said Zaidansyah. Pengurus IDN-Global yang baru dengan Kartini Sarsilaningsih sebagai Presidennya memutuskan agar dokumen yang belum selesai itu dituntaskan dalam kepengurusan 2021-2023 ini. Presiden Kartini Sarsilaningsih beserta pengurusnya adalah harapan baru Diaspora Indonesia di seluruh dunia akan direvitalisasinya perjuangan KG. Didukung oleh WGIK sebagai Badan Pekerja Pengurus untuk bidang Keimigrasian dan Kewarganegaraan, diharapkan peran IDN Global dalam perjuangan KG dapat dirasakan kembali. Presiden IDN Global sendiri telah melakukan dialog dengan WGIK serta memberikan usulan praktis dalam menjalankan strategi perjuangan. Dengan naiknya 3 (tiga) anggota WGIK menjadi anggota Executive Board (ExBo), yang salah satunya Sulistyawan Wibisono, menjabat sebagai Wakil Presiden, maka kian besar harapan bahwa Pengurus IDN Global 2021-2023 mengangkat kembali isu KG. Dengan demikian IDN Global kembali secara nyata memperjuangkan aspirasi Diaspora Indonesia. Tingkatkan perhatian Pemangku Kebijakan: Pemerintah dan Wakil Rakyat Untuk mengubah UU tentunya harus melibatkan wakil rakyat. Oleh karenanya, upaya mendapatkan perhatian dari wakil rakyat perlu terus ditingkatkan. Ini menjadi sangat penting terutama usai mendengar pernyataan WaMenKemKumHam di atas, bahwa perubahan Politik Hukum Kewarganegaraan Tunggal menjadi Politik Hukum Kewarganegaraan Ganda dapat dilakukan apabila mayoritas fraksi di DPR menghendakinya. Ketertarikan anggota Fraksi di DPR terhadap aspirasi Diaspora ini perlu dibangkitkan. Adalah sungguh memprihatinkan jika hingga saat ini hanya seorang anggota wakil rakyat saja yang merasa terpanggil untuk mendengarkan aspirasi Diaspora, tanpa Diaspora Indonesia yang mendatangi. Dialah Christina Aryani, wakil rakyat dari fraksi Golkar. Ia bahkan sudah melakukan pertemuan dengan Diaspora Indonesia di beberapa negara, Di antaranya Kanada, Amerika Serikat dan Belanda guna mendengarkan aspirasi Diaspora. Begitu pula kerjasama dengan pemerintah sebagai lembaga eksekutif jelas sangat perlu terus dipupuk. Semua akitivitas pendekatan dan mutual dialog ini hanya dapat dikelola oleh Pengurus IDN-Global, tidak mungkin oleh WGIK, kecuali jika diberi mandat yang barangkali sulit dipenuhi mengingat seluruh anggota dan Ketuanya tinggal di luar Indonesia. Dengan demikian, peran pengurus IDN Global sangat krusial. Hanya dengan pemangku kebijakan yang semakin membuka diri, maka perjuangan kita akan beranjak maju. Dan proses revitalisasi perjuangan KG inilah yang seyogyanya menjadi prioritas utama. Di bawah kepengurusan Presiden Kartini Sarsilaningsih, dengan dibantu 3 orang anggota WGIK yang menjadi anggota ExBo IDN-Global periode 2021-2023, Diaspora Indonesia boleh berharap dalam 2 tahun kedepan akan terjadi sebuah kemajuan yang berarti dalam perjuangan KG kita ini. (Oleh : Herman Syah, Ketua Working Group Imigrasi & Kewarganegaraan, IDN Global)  

29 Desember 2021

Kisah Inspiratif Hari Ibu : Ibuku, Pahlawanku

Dalam rangka memperingati Hari Ibu pada tanggal 22 Desember 2021 divisi Pekerja Migran Indonesia (PMI) Indonesian Diaspora Network (IDN) Global kembali menyelenggarakan webinar bertema “Kisah Inspiratif Hari Ibu: Ibuku, Pahlawanku”. Acara dibuka Presiden IDN Global Kartini Sarsilaningsih dan dimoderatori oleh VP Migrant Workers IDN Global Kartika Dewi. Salah satu agenda utama dalam Kongres Perempuan Indonesia adalah pendidikan. Namun, sebenarnya kesadaran akan pentingnya pendidikan bersifat permanen, sebab sampai kapanpun pendidikan akan terus menjadi dasar kemajuan suatu bangsa dan generasi masa depan. Tema ini diangkat dalam dialog interaktif diaspora seri PMI kedua, yang juga menjadi dasar perjuangan para PMI. Ani Rustiati (PMI dari Singapura), Lusius (PMI dari Hong Kong), Dwi Tantri (PMI dari Taiwan), dan Sri Aryani (PMI dari Kuwait) adalah contoh perempuan-perempuan diaspora Indonesia yang sukses menyekolahkan anak sampai ke jenjang tertinggi, dan perjuangan mereka menginspirasi banyak orang.  Tantangan dan perjuangan berat. Sukses menyekolahkan anak sampai ke jenjang tertinggi dari jauh (luar negeri) tentu bukanlah hal mudah, apalagi bagi PMI perempuan. Ada banyak tantangan dan perjuangan. Meninggalkan anak pun sudah merupakan satu tantangan besar, apalagi harus berjuang sendiri di negeri orang, yang bahasa dan budayanya tidak mudah dimengerti; belum lagi diperlakukan secara kurang baik jika melakukan kesalahan. Masalah paling utama adalah komunikasi (bahasa). Meski sudah dibekali bahasa Inggris sebelum berangkat, ternyata tidak cukup sebagai modal berkomunikasi. Pada kenyataannya, bahasa inggris sering tidak dipakai karena dalam komunikasi sehari-hari digunakan bahasa lain (misalnya bahasa arab atau bahasa cina). Masalah bahasa bukan hanya menyebabkan kurang lancarnya komunikasi, tetapi juga menciptakan rasa takut jika kontrak kerjanya diberhentikan. Makanan lokal juga merupakan tantangan. Bisa dibayangkan, sudah lelah bekerja dan lapar, tetapi tidak bisa makan, karena rasa tidak terterima lidah. Hal lain, di Kuwait misalnya, tidak diijinkan hamil sebelum genap delapan bulan kerja. Yang juga menjadi tantangan, kalaupun mau menolong teman yang sedang mendapat kesulitan kadang-kadang tidak bisa, karena waktu yang tidak memungkinkan (misalnya pada malam hari, sementara masalah itu harus diselesaikan secepatnya). Mampu menghadapi masalah. Bekerja di luar negeri adalah cara menggapai cita-cita, utamanya agar anak bisa bersekolah hingga jenjang tertinggi dan memiliki masa depan yang lebih baik. Sehingga, mau tidak mau, harus tabah dalam menghadapi segala masalah, fokus pada pekerjaan, dan jangan mengeluh. Harus kuat dan yakin pasti bisa. Juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja dan jangan malas belajar hal baru. Ketrampilan dan mental harus disiapkan, bahkan jauh sebelum berangkat. Mottonya adalah menjadi PMI yang berdaya dan keluarga sejahtera. Komunikasi dengan anak adalah hal utama. Jangan pernah melepaskan tanggung jawab sebagai orangtua. Adalah penting bercita-cita membentuk anak-anak berkualitas, memanjakan mereka dengan ilmu pengetahuan, dan merencanakan biaya sekolah anak, terutama untuk tingkat pendidikan tinggi. Jadikan semua perjuangan sebagai teladan bagi anak-anak. Perlu disadari bahwa kesuksesan tidak didapat secara instan, semua harus melalui proses yang panjang. Namun, seperti kata pepatah, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Pada akhirnya, semua akan indah. Presiden IDN Global Kartini Sarsilaningsih mengatakan Hari Ibu merupakan wujud kesadaran perempuan Indonesia, secara global dan integral, untuk ikut berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Itu terlihat pada hasil Kongres Perempuan Indonesia bahwa peran wanita, baik sebagai ibu, istri, pegawai, profesional, maupun warga negara, merupakan elemen penting kemajuan bangsa. Dari situlah muncul kesepakatan bahwa perempuan Indonesia merupakan ibu bangsa. (ES)

26 Desember 2021

Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia tahun 2022

Bismillahirrahmanirrohim Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam Sejahtera bagi kita semua Om swasti astu Namo Budaya Salam Kebajikan Pimpinan, dan Anggota Komisi I DPR RI yang kami hormati, Para Duta Besar Negara Sahabat dan Pimpinan Organisasi Internasional, Para Duta Besar, Sesepuh serta seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, baik di Tanah Air maupun di luar negeri, Pimpinan media massa, rekan-rekan wartawan, mahasiswa Hadirin yang terhormat. Pertama, saya ingin mengucapkan selamat Tahun Baru 2022. Semoga di tahun 2022 dunia dapat pulih bersama dan pulih lebih kuat. Recover Together Recover Stronger. Ibu Bapak ysh Sepanjang 2021 pandemi covid-19 masih hidup bersama kita. Dua varian baru muncul dengan tingkat penyebaran yang cukup tinggi yaitu varian Delta dan Omicron. Ditengah tantangan ini ketimpangan vaksinasi masih cukup besar. Hingga pertengahan Desember 2021, Dirjen WHO menyebutkan bahwa, 41 negara belum memvaksinasi 10% populasi dan 98 negara belum mencapai vaksinasi 40% populasi sesuai target WHO. Dampak pandemi sangat dalam kita rasakan. Pandemi telah menggerus berbagai capaian SDGs terutama bagi negara berkembang. Lebih dari 100 juta orang tambahan di seluruh dunia jatuh kembali ke jurang kemiskinan dan sekitar 800 juta orang menderita kelaparan. Selain pandemi dunia juga dihadapkan pada berbagai tantangan lainnya seperti konflik dan ketegangan di berbagai belahan dunia; bencana alam; krisis pengungsi; perubahan iklim dan masih banyak lagi. Ditengah berbagai tantangan ini kita melihat rivalitas antara negara besar semakin menajam. Rivalitas ini juga terlihat di kawasan Indo-Pasifik. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi ASEAN. Penting bagi ASEAN untuk terus memperkuat kesatuan dan sentralitasnya. Di saat yang sama ASEAN juga dihadapkan pada krisis politik di Myanmar. ASEAN telah mengambil sikap yang bulat di Jakarta April 2021 untuk membantu Myanmar mengatasi krisis politiknya melalui “Five-Points Consensus" agar kekerasan dapat dihentikan dan demokrasi dapat dipulihkan melalui dialog yang inklusif. Soliditas ASEAN harus terus diperkuat. ASEAN harus terus melanjutkan kerjanya untuk membangun komunitas ASEAN dan mewujudkan kawasan Indo-Pasifik yang aman, stabil, dan sejahtera.   Teks lengkap Pernyataan Pers Menteri Luar Negeri RI (PPTM) 2022 selengkapnya kunjungi www.kemlu.go.id

05 Januari 2022

Peluang Kerjasama Pendidikan dengan Norton University dan the University of Cambodia

Salah satu manfaat terjalinnya suatu kemitraan dan kerjasama universitas adalah universitas dapat memberikan peluang bagi mahasiswa maupun pengajar. Selain itu, seiring dengan peluang penelitian dan juga kesadaran budaya, institusi universitas juga dapat menawarkan pengalaman internasional, termasuk program studi di luar negeri dan pertukaran pengajar, serta tentunya banyak lagi peluang kemungkinan pengembangan kerjasama lainnya. Beberapa universitas di Indonesia, antara lain dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Pertamina, Unversitas Negeri Surabaya (Unesa), berminat melakukan kerjasama dengan universitas-universitas di Kamboja, misalnya dengan Royal University of Phnom Penh, Norton University, the University of Cambodia dan universitas lainnya di Kamboja. KBRI Phnom Penh menjajaki potensi kerja sama dengan Norton University dan University of Cambodia melalui pertemuan dengan masing-masing universitas (5-6/01/2022). KBRI Phnom Penh bertemu dengan Prof. Chan Sok Khieng yang merupakan Rektor Norton University, dan Dr. Kao Kim Hourn, Presiden University of Cambodia pada kesempatan tersebut. Baik Prof. Chan Sok Khieng maupun Dr. Kao Kim Hourn menyambut baik kunjungan ini, dan menurutnya kesempatan ini merupakan momen penting untuk memperkuat hubungan kerjasama pendidikan selanjutnya. Sebagai tambahan informasi, kedua universitas sudah menjalin kerjasama lebih dulu dengan President University, Universitas Tarumanegara, Universitas Gorontalo, dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). (Sumber : KBRI Phnom Penh)

05 Januari 2022

Video IDN

Opini

Cerita Inspiratif : IDN Taiwan Sukses Menggelar Festival Batik di Taiwan

Para diaspora Indonesia di Taiwan kembali mengibarkan bendera merah putih. Mereka baru saja menyelenggarakan Festival Batik dan Ikat 2021 di Museum Nasional Taiwan (Nanmen Branch). Festival ini merupakan festival yang kelima sejak diusung pada tahun 2017. Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Taiwan dan beberapa perwakilan negara asing. Oleh karena kesuksesan IDN Taiwan dalam penyelenggaran festival batik selama lima tahun berturut-turut, dua dari mereka, Kartika Dewi dan Linda Tjindawati Arifin, diminta menjadi konsultan museum-museum. Tambahan lagi, pada tahun ini untuk pertama kalinya IDN Taiwan diundang berpartisipasi dalam Bulan Indonesia, yang diselenggarakan National Palace Museum (Southern Branch). Ini suatu prestasi yang luar biasa. Bagaimana IDN Taiwan sampai bisa dipercaya museum-museum besar di Taiwan? “Pemerintah Taiwan dan LSM di sini selalu mendukung kegiatan warga asing dalam memperkenalkan kebudayaan mereka. Ada satu kebijakan pemerintah yang namanya New South-bound Policy, yang mendorong warganya untuk lebih mengenal negara-negara asing. Saya melihat Kementerian Kebudayaan Taiwan melalui Museum Nasional Taiwan sangat mendukung kebijakan tersebut. Dan kesempatan Ini harus dimanfaatkan.” Demikian penjelasan Kartika Dewi. Bagaimana muncul ide membuat festival batik? Ketika IDN Taiwan menggelar acara “Afternoon with Angklung” di Taipei Fine Art Museum, para diaspora Indonesia datang dengan memakai batik yang coraknya beragam dan indah. Kebetulan salah satu yang hadir adalah perwakilan dari Museum Nasional Taiwan. Ia sangat terkesan dengan batik-batik yang dikenakan. Melihat antusias perwakilan dari Museum Nasional Taiwan itu, Kartika Dewi, yang memimpin acara tersebut, langsung menawarkan kerjasama membuat festival batik. Pucuk dicinta, ulam tiba. Ternyata National Taiwan Museum bersedia menjadi partner IDN Taiwan untuk penyelenggaraan sebuah festival batik. Dan hanya dalam waktu 2 (dua) minggu persiapan (agar bersamaan dengan Hari Batik Nasional), akhirnya tonggak bersejarah itu terpasang. Meskipun dukungan (termasuk dana) yang mereka terima kecil, yang terbatas pada tempat dan sarana pendukung lain, mereka tetap mengerjakannya dengan sepenuh hati. “Ini merupakan hasil brainstorming panitia, yang bekerja keras tanpa memikirkan imbalan apapun, untuk melahirkan sesuatu yang baru. Kami hanya punya ide dan tenaga,” kata Kartika Dewi. Merasa puas dengan hasil kerja IDN Taiwan, pihak museum memberikan kesempatan untuk menyelenggarakan festival batik dari tahun ke tahun. Tempat penyelenggaraan pun lebih baik dan dana yang diberikan juga lebih besar. Maka dibuatlah tema-tema berbeda: Festival Batik (2017), Festival Batik dan Tenun (2018), Festival Batik dan Jumputan (2019), Festival Batik dan Lurik (2020), dan Festival Batik dan Ikat (2021). “Bagi IDN Taiwan, ini merupakan sebuah stepping-stone untuk lebih memperbaiki kekurangan dalam penyelenggaraan sebelumnya, dan membuat kami lebih berani mengundang lebih banyak diaspora Indonesia untuk meramaikan acara, terutama mengajak orang-orang yang berbakat untuk menyumbangkan acara.” “Kami membangun kerjasama yang baik dengan Museum Nasional Taiwan. Kami berusaha memberikan dan menampilkan yang terbaik pada setiap festival batik. Animo masyarakat yang begitu besar membuktikan bahwa acara kami sangat ditunggu-tunggu, dan tentu kami tidak ingin mengecewakan mereka.” “Ternyata, kalau kita bersatu, kita bisa membuat dan menyelenggarakan sesuatu yang besar. Kegiatan ini bukan semata promosi kebudayaan, tetapi warisan yang harus diteruskan kepada anak cucu kita yang hidup di luar negeri. Mereka harus diikutsertakan secara aktif,” ungkap Kartika Dewi menutup pembicaraan. (ES)

KARTINI SARSILANINGSIH

Presiden IDN Global 2021~2023

Message from the President

It is an honour for me to be the President of IDN Global for the tenure of 2021-2023.  The coming 2 years will definitely be an exciting journey as I am accompanied by a wonderful team of 22 Executive Board members from all over the world with their great enthusiasm and commitment to bring IDN Global to the next level.

“Connecting the Dots, Expanding the Opportunities” will remain the soul of our activities in the years to come. Three core substances of our activities are (1) the awareness, (2) the engagement, and (3) the empowerment of the Indonesian Diaspora. The Indonesian Diaspora are the human capital and the social capital of the nation whose potentials are now recognized by many parties, including the Government. This awareness, of course, does not come over the night; instead, it was almost a decade of engagement effort from all of us. We have proven that working together and empowering each other are important for us as a community and as a nation. This unity will be more important in the effort to recover from the covid-19 pandemic where many Indonesian Diaspora have been badly impacted while some others have been in the lucky position to be able to help.

IDN Global, as the first and the most influential organization which unite the Indonesian Diaspora globally, will always thrive to voice the aspiration of its constituents and to facilitate all their attempt to contribute to the development of Indonesia. 

Last but certainly not least, IDN Global is open for any opportunity to collaborate with its multi-stakeholders if it goes in line with its vision, mission and ethics. 

Salam Diaspora!

— Kartini Sarsilaningsih (Presiden IDN Global 2021~2023)

Lihat Deklarasi Diaspora Indonesia
Wali Dewan